Semana Santa di Larantuka (3)

Oleh Syarifah Sifat

JUMAT Agung. Pada hari itu umat kristiani di seluruh dunia memperingati wafat Yesus di salib. Wafat di kayu salib merupakan hukuman paling hina di kalangan masyarakat Yahudi di Israel. Namun, Yesus menerima itu dengan tabah dan sabar demi cintaNya kepada umat manusia.

"Tidak mudah orang mati bagi orang yang salah, tapi mungkin bagi orang yang baik orang itu berani mati. Akan tetapi karena Allah sungguh besar kasihNya kepada kita sehingga Kristus mati bagi kita untuk orang berdosa. Oleh karena itu dengan hati yang tulus ikhlas kita harus punya iman yang teguh pada Allah. Oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati yang jahat, telah dibasuh dengan darah Kristus sang anak domba Allah," demikian inti kotbah Jumat Agung yang disampaikan utusan Paus yang juga Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Leopoldo Girelli, pada upacara memperingati wafat Yesus di Gereja Katedral Larantuka, Jumat (10/4/2009) sore. 

Pesan Mgr. Leopoldo Girelli bukan hanya sebuah slogan, namun umat Katolik Larantuka dan seantero dunia telah melakukan itu pada prosesi perayaan pekan suci. Orang Larantuka mengenal jalan salib sejak abad XVI atau lebih dari 400 tahun silam. Tradisi peninggalan para paderi Portugal ini membumi di Kota Reinha dan menjadi perhatian umat Katolik sejagat.

Pada prosesi Jumat Agung mereka sibuk mempersiapkan armida alias stasi jalan salib, juga membangun pagar bambu (turo) di sisi kiri dan kanan jalan raya tempat prosesi berlangsung. Di atas turo itulah pada siang hari saat perarakan Tuan Ma dan Tuan Ana ke Gereja Katedral hingga malam hari menyinggahi delapan armida lilin menyala di sepanjang jalan.

Namun, pagi sekitar pukul 10.00 Wita sebelum jalan salib laut, umat Katolik di Kapela Tuan Menino (Yesus Kanak-Kanak), Kota Rowido, Kelurahan Sarotari, sudah melakukan doa yang dipimpin Mgr. Leopoldo Girelli. Kidung dan puji-pujian menggema di Kapela Menino. Sementara di pantai beberapa laki-laki berpakaian hitam-hitam sudah siap mendorong bero (sampan kecil) Tuan Menino ke laut. Mereka yang mendorong sampan ini memiliki ujud/promesa (nazar) khusus, termasuk dua orang di antara mereka yang dipercayakan mendayung sampan membawa Tuan Menino dari Pantai Rowido, Kelurahan Sarotari ke Pantai Kuce, Kelurahan Pohon Siri. 

Umat Katolik mempercayai umat yang memiliki ujud khusus dalam menjalani prosesi Jumat Agung selalu dikabulkan Allah. "Orang-orang yang mendayung sampan tempat disemayamkan Tuan Menino adalah mereka yang memiliki ujud khusus kepada Tuhan. Mereka yakin Allah akan mengabulkan ujud mereka," kata Kepala Lingkungan Kota Rowido Kapela Tuhan Menino di sela-sela persiapan prosesi Jalan Salib Laut, Jumat (10/4/2009).

Hal yang sama juga diakui seorang pendayung sampan yang digunakan untuk mengantar Tuan Menino, Gerardus Fernadez. "Tidak semua orang diizinkan untuk mendayung sampan Tuan Menino kecuali atas restu dari pihak Kapela Tuan Menino. Kali ini saya masih diizinkan untuk mendayung sampan setelah tiga tahun bertrut-turut. Permintaan saya agar Tuan Menino menyembuhkan anak saya Aloysius Lesi Fernandez yang saat ini sedang sakit," kata Gerardus saat sedang menyiapkan diri untuk mendayung sampan Tuan Menino.

Sementara sekitar pukul 12.00 siang di tengah panasnya Kota Reinha, umat sudah memadati sepanjang pantai Kota Rowido hingga Pantai Kuce di Kelurahan Pohon Sirih. Mereka menunggu kedatangan iring-iringan kapal yang membawa salib dari Kapela Tuan Menino. Tuan Menino disemayamkan di Kapela Tuan Menino Kota Rowido, pinggir Kota Larantuka. 

Sekitar pukul 12.30, salib Tuan Menino yang berada dalam kotak hitam diantar ke perahu oleh Konfreria berjubah putih dengan kalung bergambar Santo Dominikus yang terletak sekitar 50 meter dari Kapela Tuan Menino. Nyanyian, ratapan umat menyertai Tuan Menino diantar ke sampan dan dibawa ke Pantai Kuce. Salib Tuan Menino kemudian diarak melalui Selat Gonsalu antara Pulau Flores dan Pulau Adonara dengan menggunakan perahu bercadik. Kapal-kapal lainnya mengiringi dari belakang. 

Setelah kotak berisi salib Tuan Menino diturunkan dari perahu, prosesi mulai berjalan menuju Armida Balela. Barisan diawali para Konfreria , menyusul petugas berpakaian hitam. Tuan Menino dibawa dengan cara dijunjung di kepala disertai payung. Salib itu kemudian ditempatkan di Armida Balela. 
Dalam perjalanan mulai dari Kapela Tuan Menino sampai di Armida Balela tidak seorang pun umat yang bertopi ataupun menggunakan payung untuk menutup kepala. Hal ini untuk menghormati penderitaan Yesus.

Pada pukul 14.00 Wita, umat mengarak patung Tuan Ma dan Tuan Ana ke Gereja Katedral Larantuka. Petugas tampil dengan genda do (genderang khas), disusul Konfreria yang membawa panji-panji, lalu salib dan lilin besar. Anak-anak memakai jubah hitam. Mereka membawa palu dan paku besar, 30 keping uang perak, mahkota duri, tongkat, bunga karang, lembing, dadu. Ini semua simbol penghinaan terhadap Yesus.

Arak-arakan ini diikuti oleh petugas liturgi serta promesa (peziarah dengan nazar khusus). Promesa membantu jalannya prosesi Semana Santa agar intensinya tercapai. 

Usungan Tuan Ana dan Tuan Ma diangkat oleh Lakademu, petugas berkostum ala Portugis, ke dalam Katedral. Setelah itu upacara Jumat Agung berjalan seperti biasa, sekitar pukul 15.00. Usai upacara Jumat Agung, umat menuju ke makam untuk berdoa dan memasang lilin di pusara keluarga masing-masing. Sedangkan para peziarah melakukannya di depan tugu di tengah makam. Ritual ini sebagai simbol Yesus Kristus Sang Terang bangkit bersama orang-orang beriman yang telah meninggal dunia. 

Saat umat berdoa di kuburan, empat Lakademu melakukan jalan kure, yaitu mengelilingi pekuburan. Lalu, mereka kembali memasuki Katedral untuk memulai prosesi merenungkan sengsara Yesus. 


Hingga malam hari, belasan ribu umat tumpah ruah di sepanjang jalan Kota Larantuka. Prosesi utama Semana Santa dimulai dari Katedral menyusuri jalur yang sudah berlaku yang berputar kembali lagi di Katedral. Prosesi inilah yang selalu ditunggu-tunggu oleh ribuan umat dan peziarah dari berbagai daerah. Panjang rute mencapai lima kilometer. Di sepanjang jalan orang tidak pernah mengeluh, mereka menjalani dengan khusuk dan ikhlas. 

Selama prosesi Ana Muji Confreria, penyanyi perempuan, menyayikan lagu O Vos Omnes. Wajahnya tertunduk, berpakaian serba hitam, berkerudung kain panjang hitam. Lagu ini bergaya Gregorian, sangat mengiris hati. Mirip orang menangis. 

Lalu seorang wanita maju ke altar menunjukkan gulungan lukisan wajah Yesus, mengingatkan Veronika yang mengusap wajah Yesus di jalan salib menuju Golgota. 

Prosesi ini memiliki urutan yang baku. Paling depan barisan genderang perkabungan dan paling akhir umat dan peziarah. Selama prosesi umat berdoa dan bernyanyi sambil memegang lilin bernyala. Kota Larantuka menjadi lautan cahaya lilin yang memancar di sepanjang rute prosesi. 

Dalam prosesi ini, umat melewati delapan armida, yaitu Armida Misericordiae, Armida Tua Menino, Armida Balela, Armida Tuan Trewa, Armida Pante Kebis, Armida Pohon Siri, Arminda A Kuce, Armida Tuan Ana. Setiap armida memiliki makna dan pesan tersendiri bagi peziarah. (habis)

Pos Kupang edisi Senin, 13 April 2009 halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes