Industri Caleg

WALAUPUN banyak yang mengkritik iklan caleg di pinggir jalan sudah sampai pada taraf mengganggu keindahan, di Pasar Senen, Jakarta, yang terkenal sebagai pusat pencetakan atribut partai politik, ”order” sama sekali belum mereda.

Cukup panjang juga napas (baca: kemampuan finansial) para caleg ini. Tak sedikit yang akhirnya tak mampu membayar karena terlalu banyak ”mengorder”. Gelagat buruk pada awal karier. Caleg yang belum-belum sudah membawa gelagat buruk inilah yang harus diwaspadai.


Banyak surat pembaca yang masuk di berbagai media yang mengatakan bahwa banyak caleg di daerahnya yang ternyata dulunya adalah preman atau jawara. Malah ada juga preman yang masih aktif, artinya masih sering menunjukkan aksi sok jagonya kepada masyarakat. Standar aksi preman biasanya pamer otot, pasang tampang sangar, bau alkohol murah tercium dari mulut, ditutup dengan tegur sapa ramah yang dibuat-buat untuk menutupi ketidaksadarannya.

Masih banyak lagi kreativitas caleg dalam membuat ”kasus”. Di antaranya: meminta bantuan ”orang pintar”, berkampanye di rumah ibadah, dan tersangkut korupsi. Di tangan merekalah nantinya nasib kita digantungkan....

Pada masa Orde Baru pemilu dijalankan dengan tidak benar. Akibatnya menghasilkan wakil rakyat yang tidak benar. Wakil rakyat yang tidak benar tidak akan mampu mengontrol jalannya pemerintahan dengan benar.

Lantas apakah pemilu yang dijalankan dengan benar (baca: demokratis) akan menghasilkan wakil rakyat yang benar? Belum tentu. Dua pemilu lewat adalah termasuk pemilu yang terdemokratis di dunia dalam artian aman, partisipasi rakyat yang cukup tinggi, dan para caleg dipilih berdasarkan aspirasi rakyat.

Masalahnya, para caleg yang terpilih, yang artinya merupakan representasi rakyat tersebut, ternyata tidak memiliki kapabilitas yang memadai untuk bisa mengerti permasalahan negara. Selain itu, integritasnya masih jauh dari baik.

Dulu, ketika seorang ingin menjadi anggota DPR, biasanya dia harus melalui fase penyaringan ideologi, yaitu ”penelitian khusus” atau lebih ngetop dengan akronim ”litsus” yang dilakukan oleh Badan Intelijen Negara. Pada era reformasi, ”litsus” berakhir, dan semua orang bisa mencalonkan diri.

Euforia ini berkembang semakin jauh sehingga rasanya saat ini pendaftaran caleg tak ubahnya seperti job fair. Apalagi banyak partai politik tidak memiliki kader yang memadai, baik secara kualitas maupun kuantitas, dibukalah lowongan pekerjaan menjadi caleg.

Sepertinya, pada beberapa tahun ke depan caleg akan menjadi sebuah industri. Nantinya akan hadir lembaga pelatihan kepribadian bagi caleg untuk mudah mengambil simpati masyarakat, rumah desain untuk me-retouch wajah agar terlihat tampan dan cantik apabila terpampang di baliho, dan lembaga kursus singkat keagamaan agar caleg dapat terlihat religius. Selamat datang di industri caleg! Sumber: Kompas edisi ini!

Baca juga









Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes