Prof. Anumerta Dr G. Tom Therik M.Th

Oleh Dr. Gregor Neonbasu, SVD

Ketua YAPENKAR, Direktur Puslit MANSE NSAE, Anggota Antropos di Jerman

PENDETA Tom Therik (62) telah tiada; ia pergi untuk selama-lamanya; ia berjalan lewat dan tidak pernah kembali. Kini, walau tidak dilihat wajahnya lagi, namun kenangan masih menyimpan seribu satu peristiwa, ketika ia masih bersama kita dalam berbagai pengalaman hidup. Ia telah dipanggil ke rumah Bapak, untuk menghadap Sang Pencipta. 

Tulisan ini terbit ketika kujumpai sesosok tubuh yang sudah kaku, lalu kuarahkan pandangan sejenak ke Canberra-Australia beberapa tahun silam, ketika Pdt. Tom berkunjung ke rumah kost-ku di bilangan 42 Stephen St. Ainslie-ACT bersama Dr. Philip Tule SVD. 

Di situ kami bertiga bersenda-gurau dan bersilat kata tentang segala tetek bengek yang berkaitan dengan antropologi. Sambung diskusi ilmiah hari itu diteruskan di Canberra Centre diiringi beberapa botol minuman ringan disertai beberapa jenis menu makanan ala bule. Kami sungguh happy! Kini semuanya tinggal kenangan!

Antropolog NTT Telah Tiada
Sehari setelah kepergian Pdt. Tom, segera kuayunkan langkah ke kantor YAPENKAR di sisi selatan UNIKA Widya Mandira Kupang. Terburu-buru kubuka komputer. Mmmmm, ternyata ada banyak surat berbelasungkawa dari teman-teman di Canberra, Melbourne, Sydney dan sekitarnya.

Antara lain Prof. Dr James J Fox yang menulis singkat, padat dan sangat menyentuh sukma tentang kepergian Tom seorang antropolog sejati. Wakil Gubernur Esthon Foenay juga dalam sambutan acara pelepasan, kemarin, di Gereja Bet'el Oesapa mengungkap penuh haru: Masyarakat NTT sungguh-sungguh kehilangan seorang antropolog sejati.

Di mata Prof Fox, Pdt Tom adalah seorang peneliti ulet yang sungguh-sungguh teliti. Disertasi doktoralnya Wehali: The Four Corner Land, the Cosmology and Traditions of Timorese Rituals Centre (1995) benar-benar jadi rebutan para peneliti. Oleh karena karya akademik itu tidak saja menyajikan etnografi, melainkan mengemas sebuah perspektif teori yang sangat modern di bidang antropologi. 

Yang khas dari disertasi ini adalah penerapan metode diakronik yang amat cerdik untuk menemukan sebuah pendekatan kualitatif yang tertib aturan. Ia mengkontemplasi keseharian masyarakat sederhana di daerah Betun, Besikama dan sekitarnya (Belu Selatan) lalu menarik satu kesimpulan yang indah menawan mengenai tata krama ritualisme orang-orang desa di kawasan Wesei-Wehali Suai-Kamanasa dengan menarik sebuah perspektif pengertian pada tempat aseli Maromak Oan, Kakuluk Mesak dan Astanara. 

Ia tidak saja mengaplikasi sebuah bedah tradisi lisan untuk menemukan akar kehidupan ritualisme Orang Wehali-Wewiku di Belu Selatan, juga tidak semata memeta sebuah sentrum ritus masyarakat pinggiran orang Belu, juga tidak semata meretas sebuah diskusi serius mengenai keaselian suku-suku di wilayah itu, melainkan dengan perkasa memberi landasan fundamental akan kejelian masyarakat desa ketika mempersembahkan ritus kepada para leluhur untuk mencari 'mengapa manusia selalu rindu untuk berjumpa dengan usul-asalnya'.

Masyarakat desa, tulisnya dalam salah satu bagian karyanya mengutip A Hocart Kings and Councillors, an Essay in the Contemporary Anatomy of Human Society (1936) selalu memelihara ritus untuk mengarahkan kehidupannya; yakni tata hidup yang selalu rukun dalam harmoni dengan sesama, lingkungan, leluhur dan Pencipta.

Kini, mantan Rektor UKW itu menyerahkan diri sepenuhnya dalam tata aturan tersebut; Pdt. Tom sendiri menjadi bahan persembahan yang harum mewangi dan tanpa syarat demi keharuman harmoni tadi. 

Ia seorang peneliti yang selalu konsisten untuk menemukan makna baru di balik langkah-langkah merefleksi data dan mengkaji tradisi para leluhur dengan sangat cerdik. Ia tidak terpasung dalam kecenderungan untuk merekayasa data demi tujuan sesaat. 

Hasil refleksi dan puncak bedah ilmu yang dilakukannya selalu dapat dipertanggungjawabkan. Ia benar-benar peneliti ulung dengan rasa haus dan lapar akan kebenaran secara ilmiah-metodik, yang ternyata dipelihara dalam kepatuhan ketika memberi argumentasi dalam sebuah 'taat sistemik' serta tulus untuk tunduk pada pola yang rapih.

Ilmuwan Sejati 
Selang 9 tahun setelah studi S3, disertasinya terbit dalam bentuk buku berjudul Wehali: The Female Land, Traditions of a Timorese Ritual Centre (2004). Refleksi antropologis yang dipagelarkan Pdt. Tom berpijak pada sebuah tulisan Prof Fox berjudul Our Ancestors Spoke in Pairs: Rotinese Views of Language, Dialect, and Code (1974). 

Buku ini tidak saja berisi disertasi doktoral, melainkan juga perluasan kajian yang sungguh mendalam, di mana menempatkan beliau pada posisi yang sangat strategis: tidak saja sebagai peneliti murni, melainkan sebagai seorang pendeta senior yang sedang mengais Kasih Tuhan di dalam hati sesama. 
Jika dicermati dengan kerlingan ilmu antropologi gaya sinkronik, Pdt. Tom sebetulnya tidak saja mengagumi gurunya - Prof Fox - melainkan juga para peniliti sebelumnya, antara lain Pdt P. Middelkoop dan antropolog E.G. Traube.

Tom memang pengagum Middelkoop, ketika misalnya mengutip Een studie van het Timoreesche Doodenritueel (1949) mengenai tata krama relasi spiritual Orang Timor dengan para leluhur dan Yang Ilahi.

Kemudian tentang Traube, yang dalam karyanya Cosmology and Social Life, Ritual Exchange Among the Mambai of East Timor (1986), dijadikan Tom sebagai aras refleksi rohani untuk menemukan yang khas pada Masyarakat Timor secara keseluruhan. Ia memadukan gaya dakronik dan sinkronik dalam satu tataran refleksi kritis terhadap teks-teks lokal.

Perilaku seorang antropolog yang selalu terlibat dalam perkara mencari fakta di balik relasi internal antara manusia dan ekologi, dapat disimak dalam karya-karya di atas. Tom sungguh mempersembahkan hidupnya untuk mengkontemplasi hubungan yang selalu digumulinya siang dan malam mengenai makrokosmos (alam-raya), mikrokosmos (manusia), para leluhur dan Yang Ilahi.

Kepeduliannya terhadap antropologi NTT tidak saja terlihat dalam karya-karya sebelumnya, melainkan juga pada terbitan A guide to the people and languages of Nusa Tenggara (1997) yang dikaji bersama teman-teman Charles E Grimes, Barbara Dix Grimes dan Max Jacob. Yang menarik dari terbitan terakhir ini adalah usaha meramu informasi sekitar ethnolinguistik mengenai kawasan Nusa Tenggara (NT) dengan memeta daerah-daerah kawasan NT ke dalam kelompok bahasa-bahasa lokal. Karya ini menjadi modal dasar untuk masuk pintu gerbang berbagai disiplin ilmu dan tidak saja antropologi. 

Karya terakhir ini memberi sebuah daftar sangat signifikan dalam perkara bahasa, yang dilengkapi dengan catatan kritis mengenai paralelisme sebagai unsur pokok dari ritus Masyarakat Indonesia timur. Di sini, dengan mempelajari daftar bahasa yang teratur, kita dapat sampai pada hati masyarakat, di mana pelbagai perkara berkenaan dengan manusia dan kehidupannya dapat ditemukan.


Pdt. Tom telah pergi. Dia menemukan kembali Pencipta dan Khaliknya. Ia tinggal di sana untuk selama-lamanya. Setelah lama bergumul dengan data-data dalam paduan diakronik dan sinkronik, kini KhalikNya memanggil Tom pergi, ke rumah abadi di Surga. Ia telah menemukan relasi yang paripurna, yang selama ini dicari dalam karya-karya penelitiannya!

Professor Anumerta 
Seorang rekan Pendeta Dr. Nicolas J Woly M.Th serta merta menyambut julukan yang kusampaikan untuk mengenang Pdt. Tom Therik sebagai seorang guru besar ilmu antropologi. 

Kata Pdt. Nico, memang kenyataan seperti itu bahwa Pdt. Tom pantas disebut guru besar oleh karena karya-karyanya berupa tulisan dan keterlibatannya di bidang penelitian ilmu dan karya-karya kemanusiaan.

Dalam kesempatan berbeda, Prof. Daniel Kameo Ph.D, menuturkan serius, de facto Pdt. Tom sudah pantas disebut professor oleh karena karya tulis, penelitian dan pengabdiannya bagi masyarakat. Tukasnya, hanyalah de iure, dalam arti urusan administrasi saja untuk mengambil sebutan maha guru.

Tertera dalam lembaran riwayat hidup yang kuterima dari salah seorang staf Local Coordinator for Potensi Laut Project of the Australian Marine Science and Technology, yang dipimpin Pdt. Tom selama dua tahun terakhir, ada banyak sekali kegiatan akademik yang sudah memberi aba-aba akan kedudukan pendeta senior GMIT ini sebagai seorang guru besar antropologi.

Dalam perspektif ilmu, Pdt. Tom telah menyumbang sekian banyak refleksi, telaahan, kajian, bedah masyarakat, studi kearifan lokal dan pelbagai karya di tengah masyarakat. Hidupnya dibaktikan seluruhnya bagi dunia akademik di lingkungan Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang. Ia pernah memberi kuliah pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero-Maumere dan dosen pembimbing pada STT Jakarta serta yang lainnya.

Ternyata ia tidak saja menjadi guru besar di bidang ilmu, melainkan juga di dalam keluarga dan di antara pergaulan dengan teman-teman. Itu kudengar dari komentar para pelayat yang datang tiada putus ke rumah duka: persis di pinggir pantai Lasiana, pintu masuk di samping Taman Asuhan Sonaf Maneka: rumah di mana kasih sayang dan cinta Tuhan dipelihara dalam hati anak-anak yang tidak memiliki harapan.

Pdt. Tom telah menjadi guru besar yang baik, tidak saja di dalam dunia akademik, melainkan juga bagi kita. Rani si putera sulung yang jebolan S2 New South Wales University of Sydney mengisahkan kebiasaan bapaknya sebagai pencinta ilmu yang tiada henti mencari kebenaran di balik realitas setiap hari. "Bapak selalu mengajarkan kepada kami untuk bekerja keras," katanya terisak tangis yang menawan hati.

Hidup untuk Sesama dan Tuhan
Tom kelahiran Atambua-Belu ini sangat konsisten dengan temuan dari refleksinya yang paling mendalam akan setiap kemampuan yang telah diterimanya dari Tuhan. Apa yang diterimanya dari Pencipta, ia persembahkan dalam karya-karya membangun sesama.

Suatu waktu ketika sedang ada temu alumni antar semua teman yang pernah belajar di Australia, antara lain The Australian National University (ANU) di Canberra, Flinders University di Adelaide, Monash University di Melbourne, Curtin University di Perth, Charles Darwin University di Darwin dan yang lainnya, maka sepakatlah kami membentuk 'kelompok pelayanan' di antara alumni. 

Melalui kelompok seperti ini ia senantiasa memberi masukan untuk tetap setia melayani, taat memberi respek kepada orang lain, tiada henti membantu sesama. Sosok hamba Allah yang menyelesaikan studi S 2 pada The University of Sydney (1983) ini selalu mendorong teman-teman untuk terlibat dalam network yang bermanfaat untuk membantu sesama dalam perspektif mengabdi Tuhan Pencipta. Itu seirama dengan apa yang pernah ditulis dalam tesis Mth-nya Old Testament Perspectives on "The Simple People" in the Context of People of west Timor (1983). 

Apa yang ditulis berupa teks selalu mengalir dari penghayatan akan hidup dan karyanya di antara sesama. Walau ia telah pergi, segala perbuatan baiknya tetap dikenang oleh semua kita yang ditinggalkan. Tom tetap hidup dalam ingatan dan kenangan kita!
Tom sahabatku, terima kasih atas kebersamaan kita; terima kasih atas diskusi kita di bidang ilmu untuk mengembangkan antropologi di kawasan Timor; terima kasih atas pikiran-pikiran cemerlang yang sulit kutemukan dari para sahabat; terima kasih atas sumbanganmu yang sangat brillian di bidang penelitian dan refleksi ilmu. 

Akhir kata, Tom.. selamat jalan dan doakanlah kami di hadirat Tuhan Pencipta yang pernah kita abdi dan kita sembah: AMEN. *

Pos Kupang edisi Jumat, 27 Maret 2009 halaman 14
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes