Istri Alex Longginus: Saya Tidak Kuat...

HATI Nyonya Gorety, istri Drs. Alexander Longginus, pedih. Bagaimana tidak. Suami yang dicintainya, yang adalah mantan Bupati Sikka, mesti mendekam di Rutan Maumere akibat dugaan kasus korupsi.

Sebagai istri yang telah sekian tahun mendampingi sang suami, Ny. Gorety sangat kalut. Dia pasti tak pernah membayangkan kalau suatu saat suaminya yang lima tahun jadi orang paling penting dan nomor satu di Sikka harus ditahan. 

Tetapi yang paling membuat hatinya sedih adalah ketidakadilan hukum yang dirasakannya. Dia seolah berontak, menggugat dan bertanya. Mengapa hanya suaminya saja yang ditahan? Mengapa para tersangka lainnya, tiga pimpinan Dewan ketika itu tidak ikut ditahan?

Menghantar suaminya masuk ke Rutan Sikka, Selasa (10/3/2009) lepas tengah hari, ibu lima anak ini tak sanggup menahan air matanya. Tangisnya pecah. Air matanya tak terbendung. Histeris. Dia tak tega menyaksikan suaminya masuk rumah tahanan. 


Mengenakan baju lengan panjang dan celana hitam bersepatu sendal, wanita itu berteriak histeris menuntut keadilan hukum bagi sang suami. "Di manakah letak keadilan hukum? Kenapa hanya suami saya yang ditahan? Duapuluh tujuh mantan anggota DPRD Sikka itu menerima uang, mantan pimpinan Dewan juga, tapi kenapa hanya suami saya yang masuk, mereka tidak?" kata Ny. Gorety. Tangannya tak lepas mendekap Longginus. 

Melihat istrinya menangis, Longginus terlihat tabah. Ketua DPC PDIP Sikka itu memberikan kekuatan kepada istrinya dengan mendekap sambil meminta Ny. Gorety berhenti menangis. Longginus juga minta istrinya pulang mengurus anak-anak mereka di rumah. Namun Ny. Gorety terus saja menangis. Sanak keluarga lainnya juga ikut menangis. Suasana sungguh sangat haru.

Jaksa dan petugas rutan pun tak kuasa menyaksikan adegan itu. Namun mereka terlihat tegas, tidak mengeluarkan air mata. 
Kemarin pagi sekitar pukul 08.40 Wita, Ny. Gorety kembali mengunjungi suaminya di Rutan Maumere. Didampingi sanak keluarga dan anak bungsunya yang masih berusia tiga tahun, Ny. Gorety masih terlihat sedih. 

Di depan pintu masuk ke ruang rutan, saya menyapanya, "Selamat pagi mama." Ny. Gorety tak dapat menahan tangisnya ketika melihat dan mendengar sapaan saya.

Saya mendekati, menyalaminya. Ny. Gorety sangat sedih. Dia langsung memeluk saya dan menangis. "Adik, kamu wartawan. Tolong kami. Kamu harus menulis juga tentang ketidakadilan jaksa dalam memroses hukum kasus ini. Bapak ditahan, tapi tersangka lain tidak. Seluruh mantan anggota DPRD Sikka terima uang, tapi kenapa tidak ditahan? Di manakah letak keadilan hukum bagi kami," protes Ny. Gorety. Kami tetap berpelukan. Kami lalu duduk di beranda samping depan pintu rutan karena pegawai rutan belum mengizinkan kami masuk ke dalam. "Saya tidak kuat kalau harus begini, hidup sendiri dengan anak-anak. Adik, selama lima tahun memimpin, bapak hanya menyenangkan orang lain, dia bekerja dengan hatinya. Selesai menjadi bupati, bapak tidak bawa apa-apa pulang. Uang tidak ada. Rumah kami sederhana, bocor di mana-mana. Ini anak bungsu kami, tadi malam dia tidak bisa tidur. Dia tanya bapaknya terus karena biasa dia tidur dengan kami. Sebenarnya saya tidak kuat hadapi masalah ini tapi anak-anak menguatkan saya. Anak saya yang paling besar yang paling tabah. Kemarin sore saya pulang ke rumah sendirian, dia tanya bapak mana? Saya jawab, bapak sudah masuk rutan. Dia langsung minta saya tabah menghadapi hal ini. Dia bilang, dia percaya bapaknya orang jujur, tidak pernah makan uang rakyat, jadi kita keluarga tidak perlu takut dan malu. Tuhan akan bantu bapak," tutur Ny. Gorety. 

Meski begitu, kata Ny. Gorety, dia mesti pasrah dan tabah menghadapi masalah ini. Namun harapannya tegas, Kajari dan jaksa bisa bertindak adil terhadap seluruh pihak yang terlibat kasus dana purnabakti DPRD Sikka 2004. Jangan tebang pilih. "Kami hanya minta keadilan hukum yang seadilnya. Jangan pilih-pilih tahan orang," kata Ny. Gorety.


Kemarin pagi ada belasan sanak keluarga yang mendampingi Ny. Gorety menemui Longginus. Mereka bercakap-cakap di ruang tengah rutan sambil duduk di kursi yang diletakkan keliling membentuk lingkaran. Meski tampak sedikit pucat, Longginus berbicara dengan keluarganya sambil memangku anak bungsunya itu. (Novemy Leo)

Pos Kupang edisi Kamis, 12 Maret 2009 halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes