Pembekalan Rohani, Caleg Tidak Peduli!

RUANG sidang kosong-melompong rupanya tidak hanya terjadi di Senayan atau di gedung wakil rakyat di berbagai daerah di Tanah Air. Ruang kosong pun terlihat di Aula Rumah Sakit (RS) Damian, Lewoleba, Kabupaten Lembata, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Begini ceritanya. Kantor Departemen Agama (Kandepag) Kabupaten Lembata yang dipimpin Dra. Dorthia Nahak menggagas sebuah acara pembekalan rohani bagi para calon anggota legislatif (caleg) yang akan berlaga 9 April 2009. 

Gagasan tersebut disambut positif oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Lembata. Sesuai kesepakatan mereka, acara pembekalan rohani diselenggarakan pada hari Kamis tanggal 5 Maret 2009.

Menyadari tingkat kesibukan para caleg yang sedang fokus pada sosialisasi diri kepada para konstituen, KPU dan Depag Lembata lebih awal menyebarkan undangan. Seminggu sebelum hari H, KPU Lembata telah mengirim undangan kepada para caleg untuk mengikuti acara tersebut. 

Depag Lembata mengirim lagi surat khusus kepada 36 pimpinan partai peserta pemilu 2009 agar menfasilitasi kehadiran para caleg. KPU dan Depag sangat mengharapkan para caleg mengikuti pembekalan rohani tersebut. 

Pembekalan rohani memilih topik Hidup Dalam Solidaritas Lemanusiaan, Sebuah Model Spiritualitas Pelayanan Publik. Menurut Ketua Panitia, Petrus Muga Ladjar, panitia memilih topik ini guna memberikan pencerahan kepada caleg agar mengikuti kompetisi pemilu legislatif dalam semangat kasih dan persaudaraan sejati. Menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan pribadi dan kelompok serta menjaga iklim kehidupan rukun dan damai di Lembata selama pemilu legislatif dan presiden. 

Panitia menghadirkan tiga nara sumber yang berkompeten yakni Romo Philipus Sinyo da Gomez, Pr, Drs. Mochtar Pua, dan Pendeta Andreas Mauleti. Ketiganya menyoroti solidaritas kemanusiaan menurut pandangan agama Katolik, Islam dan Protestan. 

Apa yang terjadi? Pada hari H tanggal 5 Maret 2009, dari jumlah total 471 caleg DPRD Lembata yang diundang, caleg yang hadir di tempat acara, Aula RS Damian Lewoleba hanya 49 orang. Tidak sampai 10 persen!

Pembukaan kegiatan molor satu jam 15 menit karena menunggu kehadiran caleg. Ketiga nara sumber yang hadir tepat waktu harus sabar menunggu caleg yang akan menerima "siraman rohani" dari mereka. Acara baru dimulai pukul 09.45 wita setelah kehadiran caleg mencapai 41 orang dan delapan orang menyusul saat pembukaan berlangsung. Dalam undangan acara dipatok mulai pukul 08.30 wita (waktu Indonesia Tengah).

Panitia penyelenggara dari Depag wajar kecewa karena mereka menyiapkan 300 kursi di dalam aula dan sisanya di luar aula. Namun, kursi yang terisi sebanyak 65, sebagiannya ditempati tokoh masyarakat, tokoh agama dan karyawan-karyawati Depag Lembata. "Kita sudah kerja sama dengan KPUD, tetapi kehadiran mereka hanya begini saja," kata kata Dorthia Nahak kepada wartawan Pos Kupang yang bertugas di Lembata, Eugenius Moa.

Dorthia menjelaskan, gagasan menyelenggarakan pembekalan rogani dilatari stigma yang memandang politik sebagai wilayah yang kotor, ajang memangsai orang lain dan sarana memeras hak-hak orang lain. Melalui pembelakan rohani ini, demikian Dorthia, diharapkan bisa terbangun pemahaman baru bahwa berpolitik itu merupakan pergumulan kasih bagi sesama. Mencapai tujuan luhur itu dibutuhkan kaidah dan dasar berpolitik yang baik, sehat, santun, beradab dan tidak mencederai sesama dalam perjuangan memperoleh dukungan publik.

Apa daya, niat baik Ibu Dorthia dan koleganya dari KPU Lembata cuma dihargai 49 orang caleg. Sebagian besar mungkin menganggap tidak penting sehingga mengabaikan undangan tersebut. Begitulah yang terjadi di Lembata, entah dengan daerah lain di Indonesia. Semoga caleg di daerah lain masih menghargai urusan rohani.

Tentang Lembata, saya percaya sebagian pembaca sudah familiar. Daerah itu terkenal ke seluruh penjuru jagat lewat tradisi penangkapan ikan paus secara tradisional oleh para nelayan tangguh di Desa Lamalera. Tokoh populer dari Lembata antara lain mantan Menteri Lingkungan Hidup, Dr. Sonny Keraf dan ahli Tata Bahasa Indonesia, Prof. Dr.Goris Keraf (alm). *
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes