Benge

Mengabdi dengan hati
Tidak butuh tepuk dan sorak


NAMANYA Benge, sapaan akrab Om Benge. Tidak mengenyam pendidikan tinggi. Tak banyak cakap. Bicara seperlunya. Rajin bekerja. Bekerja keras dan cerdas. Suka menolong. Jarang mengeluh meski hidup susah sebagai petani di kampung udik Flores bagian tengah yang topografinya lebih banyak "wolo sia" alias bukit gersang dan tebing terjal ketimbang tanah datar menghijau.

Om Benge sekampung denganku. Dia meninggal dunia tujuh tahun lalu dalam usia 74 tahun. Meninggalkan seorang istri, enam orang anak dengan pendidikan lumayan baik dan tujuh orang cucu yang lucu-lucu.


"Jabatan pemerintahan" tertinggi yang pernah dipangku Om Benge adalah Ketua RK -- setingkat Ketua RW sekarang. Pada pelaksanaan pemilu (di zaman Orba selalu dimenangi Golkar) - - cukup sering Om Benge dipercayakan sebagai ketua PPS.

Di antara banyak tokoh kampung kami termasuk mosalaki (pemimpin adat) memoriku justru paling kuat merekam jejak warisan Om Benge. Terkenang sampai detik ini. Maka izinkan beta menulis secuil tentang keutamaan Om Benge sebagai manusia. Manusia kaya arti, mengutip mantan Gubernur NTT, Herman Musakabe.

Pada awal Orde Baru atau masa awal kepemimpinan El Tari di Nusa Tenggara Timur (NTT) akhir tahun 1960-an hingga dekade 1970-an, tuan dan puan bisa membayangkan sendiri kondisi pedesaan di pelosok NTT. Serba sulit!

Salah satu kebutuhan vital yang diperoleh dengan susah payah di kampung kami adalah air bersih. Untuk mendapatkan air, kaum ibu dan gadis remaja setiap hari harus berjalan kaki menuruni lereng bukit menuju kali yang berada jauh di lembah. Jaraknya sekitar 5 kilometer. Pergi pulang 10 km. Jalan pulang memikul air dalam bambu butuh ekstra tenaga. Harus berhenti berkali-kali guna memulihkan tenaga sebelum mencapai kampung warisan nenek moyang kami di puncak bukit.

Kesulitan bertahun-tahun itu diretas Om Benge. Pada usia 12 tahun atau kelas VI SD, beta merekam moment itu dengan baik. Dalam pertemuan kampung dipimpin mosalaki, Om Benge mengajukan usul cerdas. Menurut dia, kesulitan air bersih bisa teratasi bila seluruh warga kampung atas dukungan mosalaki mau membangun jaringan pipa dari bahan bambu yang jumlahnya berlimpah di kampung kami.

Om Benge sudah survai. Ada sumber air di lereng gunung yang letaknya lebih tinggi dari bukit perkampungan kami. Lokasi strategis mengingat sifat alamiah air. Cuma jaraknya bikin "sesak napas". Jauhnya 12 km dari kampung!

Usul Om Benge diprotes. Ditolak sebagian besar orang di kampung kami yang cenderung pasrah pada alam. Mereka membayangkan beratnya menyambung ribuan batang bambu menjadi pipa sepanjang 12 km. Pertemuan perdana tak sepakat. Pertemuan kedua buntu. Ketiga juga sama. Namun, Om Benge tidak kehilangan akal. 

Dikumpulkannya sejumlah pemuda yang sejalan dengan idenya. Mereka kerja diam-diam. Memotong bambu, mengumpulkan perekat dan penyumbat air, semua dari bahan alam yang jumlahnya tak terbatas. Mereka buat bendungan kecil di mata air lalu mengalirkan air lewat bambu. Pekerjaan diam-diam itu tercium warga kampung. Mereka kaget Om Benge dkk sudah membangun jaringan pipa bambu sejauh 2 km. Dan, air mengalir lancar. Mengalir sejauh pipa bambu yang dirajut.

Mosalaki yang awalnya pesimis terbuka mata. Hatinya tergugah.Ternyata Benge tidak asal omong. Mosalaki gunakan wibawanya. Mewajibkan orang sekampung bergotong-royong melanjutkan pekerjaan yang sudah dirintis Om Benge. Tiga bulan kemudian air bersih sampai di tengah kampung. Mengalir tak henti-hentinya.

Kaum ibu dan gadis tidak susah payah lagi menuruni bukit. Kami para bocah lebih rajin mandi pagi dan petang. Siang bolong pun mandi untuk bersenang-senang. Sebagai RK, Om Benge jua yang mengatur pembagian tugas merawat jaringan pipa bambu itu. Warga kampung dibagi dalam empat kelompok dipimpin seorang ketua. Tugas kelompok memeriksa jaringan pipa bambu setiap akhir pekan. Jika ada masalah misalnya tersumbat sampah atau bambu terlepas langsung diperbaiki.

Musim hujan dan angin adalah saat-saat paling merepotkan. Pada saat itu semua warga kampung wajib turun tangan. Perawatan umum setahun sekali sehingga peremajaan pipa bambu tetap terjaga. Jaringan pipa bambu itu bertahan puluhan tahun. Pengabdiannya baru berakhir sekitar tahun 1985 ketika kampung kami dapat bantuan jaringan pipa besi dari pemerintah lewat program benah desa.

Berkat gagasan Om Benge pula lahan sepanjang pinggiran kali, meskipun tidak seberapa luas, berubah menjadi sawah. Akhir tahun 1970-an, di NTT sedang giat- giatnya progam membuka sawah baru. Om Benge terinspirasi dengan itu lalu memberi contoh. Dia menggalang swadaya warga membangun saluran air. Caranya dengan membendung kali lalu air disalurkan ke lahan sawah. Tidak menggunakan semen dan besi. Semua memakai bahan lokal seperti batu, kelikir, tanah merah, penambal dari ijuk atau pelepah pisang kering dan sebagainya.

Om Benge tipe manusia kreatif. Jalan tikus di kampung ditatanya menjadi jalan setapak yang lebih memanjakan kaki. Kampung kami punya lampu gas (petromaks) umum yang dipakai jika kedatangan tamu, misalnya pejabat dari kecamatan atau kabupaten. Lampu itu pun dipakai saat pesta adat, kematian atau pernikahan. Om Benge perkenalkan kakus, toilet alias WC. Awalnya WC umum, lama kelamaan diikuti tiap KK. Kata Om Benge, malu kita jika tamu datang mesti BAB (buang air besar) di hutan atau duduk pejam mata di titian kayu di atas kandang babi. Oh!!

Demikianlah, kekagumanku pada Om Benge bertahan sampai kini. Untuk jadi pemimpin bijak ternyata tidak mesti sekolah tinggi. Om Benge mempraktikkan apa yang dalam teori kepemimpinan disebut sebagai pemimpin responsif. Peka terhadap kebutuhan orang-orang yang dipimpinnya. Dia tidak mengeluhkan kendala ini dan itu, tetapi rajin cari solusi. Tidak menunggu bantuan pihak luar tetapi berani menggerakkan kekuatan rakyatnya sendiri.

Semoga masih ada tokoh seperti Om Benge di beranda Flobamora. Bisa saja namanya Anton, Habib, Abdullah, Mochdar, Joseph, Jonatan, Paul, Gasper, Said, Bergita, Maria, Syarifah, Rugeya, Veronika, Sofia, Matilda. Pemimpin yang tidak butuh tepuk dan sorak. Tidak dikalungi selendang dan tempat duduk terhormat dalam setiap hajatan. Cepat tanggap terhadap kebutuhan rakyat bukan untuk dipuja. Melayani bukan demi pujian. Mereka mengabdi dengan hati.

Siapakah pemimpin tuan dan puan ketika hari-hari ini listrik mati kaget semakin sering? Ketika sampah masih berserakan dan setetes air bersih tetap saja sulit diperoleh? Tuan dan puan lebih tahu. Bagi beta kerinduan pada Om Benge semakin kental. Om Benge, beristirahatlah dalam damai! (dionbata@poskupang.co.id)

Pos Kupang edisi Senin, 18 Mei 2009 halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes