India yang Punya Nama

Oleh Dion DB Putra

MERASA diperhatikan, Bernadeta Rika (60) tersipu malu saat menerima uang pecahan Rp 50 ribu sebanyak tiga lembar dari Nyonya Daniel, pengusaha pengumpul jambu mete asal Maumere. Hari itu, 17 September 2008, Rika, warga Kampung Kobho, Desa Ndondo, Kecamatan Kota Baru, Kabupaten Ende menjual sekarung jambu mete gelondongan kepada Daniel.

"Saya tidak punya uang kecil untuk kembali, kasi saya uang pas," kata Rika. Sebagai pengusaha pengumpul aneka komoditi masyarakat Pantura Flores yang saban hari melintasi rute Maumere-Ropa PP, Daniel siap payung sebelum hujan. Selalu ada "uang kecil" di dalam tas istrinya, wanita keturunan Tionghoa. "Susah dapat uang kecil di kampung begini," katanya.

Ketika ditemui Pos Kupang hari itu, Daniel bersama istri serta dua orang staf sedang dalam perjalanan pulang dari Ropa ke Maumere dengan truk Cantates. Di dalam truk yang dimodifikasi menjadi "bis kayu" tersebut ada karung-karung berisi jambu mete serta komoditi lain. Paling banyak jambu mete. "Sekarang kan sedang musimnya," kata pria asal Kampung Kei, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka itu.

Daniel yang sehari-harinya tinggal di Wolombetan-Maumere menekuni pekerjaan tersebut sejak bulan Januari tahun 2007. Sebelumnya ia berusaha di Lewoleba, Kabupaten Lembata.

Daniel membeli jambu mete gelondongan dari petani dengan harga Rp 8 ribu per kg. Harga standar untuk musim panen mete tahun ini. Hampir semua pengumpul mete membeli dari petani di wilayah Sikka dan Ende dengan harga senilai itu.

Setiap pengumpul komoditi membangun jaringan dengan petani sepanjang jalur Maumere-Ropa. "Prinsipnya kami bisa beli dari siapa saja. Tapi ada pelanggan yang hanya jual kepada saya. Tergantung hubungan baik dengan mereka," tutur Daniel.

Pelayanan dan hubungan baik dengan petani merupakan kunci sukses mengingat persaingan antara pengusaha cukup ketat. Setiap hari rata-rata 20-an pengusaha pengumpul komoditi yang hilir-mudik sepanjang jalur Maumere-Ropa membeli hasil bumi. Mereka menggunakan truk atau mobil bak terbuka (pick-up) untuk mengangkut mete. Pengusaha lainnya berasal dari Kota Ende, kurang lebih 10 orang. Mereka juga rutin mengunjungi petani di wilayah Welamosa, Sokoria, Ropa, Ranokolo, Maurole, Aewora hingga Ndondo.

Pada hari biasa, para pengumpul rata-rata mendapatkan 1 sampai 2 ton jambu mete gelondongan dari petani. "Lebih banyak kalau hari pasar. Bisa dapat 5 sampai 6 ton," kata Daniel. Pasar di kawasan utara Ende berlangsung sepanjang pekan. Hari Senin pasar di Boto, Rabu Pasar Ropa, Kamis Pasar Kota Baru, hari Jumat Pasar Ndondo dan hari Sabtu pasar mingguan di Maurole. Sudah tradisi di Flores, saat pasar mingguan, petani 'turun gunung' menjual hasil kebun mereka.

Ke mana jambu mete itu dilempar? Pengusaha pengumpul seperti Daniel menjual komoditi tersebut kepada jaringan pengusaha besar di Maumere. Menurut Daniel, margin harga jual kepada pengusaha di Maumere tidak besar. Dia menjual seharga Rp 8.250,00 atau Rp 8.300,00 per kg. "Kalau mete yang dibeli dari petani banyak, keuntungan saya lumayan," jelasnya. Pos transportasi menguras biaya terbesar. Jika menyewa kendaraan, sebagian keuntungan bakal terkuras. "Saya untung karena punya oto (truk) sendiri," kata Daniel yang merangkap sopir truk Cantates.

Siapa pengusaha besar di Maumere atau kota lain di Flores yang menguasai perdagangan jambu mete? Bukan cuma Daniel yang tahu. Bahkan petani sederhana di kampung seperti Gardia Guna dan Bernadeta Rika pun hafal 'luar kepala'. "Ata India," jawab spontan Bernadeta Rika. Ata India (orang India).

India sudah lama masuk ke Flores. Lebih awal ketimbang 'invasi' film Bollywood mendominasi program acara stasiun televisi nasional. India populer di Pantura Flores karena mete. Orang-orang di sana tidak begitu kenal nama Shahrukh Khan, Hrithik Roshan, Salman Khan, Aishwarya Ray atau Pretty Zinta. Tetapi mereka tahu tentang India. "Kami kumpul dari petani lalu jual kepada India. Harga sudah mereka (pengusaha India) tentukan," kata Daniel.

Artinya, kacang mete yang dinikmati pengunjung restoran ternama di Paris, London, Bonn, Roma, Tokyo bahkan Jakarta, dikenal sebagai mete India. Jambu mete Flores, tapi India yang punya nama. "Mau bilang apa, mereka yang punya uang," ujar Camat Kota Baru, Drs. Kornelis Wara.

Dengan uang siapa pun bisa menguasai dunia! India adalah negara terbesar pengekspor mete olahan. Saban tahun pedagang India berkelana di Flores antara bulan Agustus hingga Desember. Mereka menentukan harga. Naik atau turun, tergantung dia. Mete organik bisa disebut non-organik. Mete nomor satu, dapat diklaim buruk mutu. Petani kecil seperti Rika tentunya tak paham dengan mekanisme pasar yang "gelap gulita" semacam ini. Siapa peduli? (bersambung: Mencicipi Mete Cap "Mi Menge")
Pos Kupang edisi Selasa, 21 Oktober 2008 halaman 1, http://www.pos- kupang.com
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes