Buruk, kinerja Perusahaan Daerah di NTT

KUPANG, PK -- Hampir semua perusahaan daerah (PD) di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) berkinerja buruk. Ini antara lain terlihat dari kontribusi PD bagi pendapatan asli daerah (PAD) yang sangat kecil dibandingkan dengan suntikan dana dari APBD untuk aktivitas PD. Bahkan ada PD yang tidak mampu memberi apa-apa untuk PAD.

Demikian data dan informasi yang dikumpulkan Pos Kupang dari beberapa kabupaten di NTT. Dari delapan PD di NTT, tak satu pun PD mampu menyumbang PAD senilai yang diterimanya dari APBD.

Hampir semua daerah, termasuk Pemprop NTT yang memiliki PD Flobamor, nyaris tak terdengar kisah sukses. Yang mencuat dari sana hanya kisah kegagalan, kerugian dan dililit aneka masalah. Kondisi ini mengharuskan perlunya reevaluasi pembentukan PD di setiap daerah.

PD Belu Bakti misalnya, pada tahun anggaran 1991/1992 Pemkab Belu menyuntik dana Rp 322.355.221. Suntikan dana APBD ini tidak mampu dikembangkan dengan baik sehingga perusahaan ini tidak mampu memberi apa- apa untuk PAD. Bahkan tahun-tahun berikutnya (1993- 1994), aktivitas perusahaan ini macet total.

PD Belu Bakti baru hidup lagi 1 Januari 2005 dimana Pemkab menyuntik dana Rp 372.355.221. Tahun itu perusahaan ini menyumbang PAD Rp 6 juta. Dua tahun berikutnya, kinerja perusahaan ini melorot lagi dimana 2006/2007 hanya menyumbang PAD Rp 2,5 juta dari total APBD yang diterima sebesar Rp 322.355.221. Selanjutnya tahun 2007/2008, perusahaan ini hanya bisa memberi Rp 1,8 juta ke PAD dari total dana APBD yang diterima sebesar Rp 322.355.221.

Di TTU, PD Cendana Bakti baru bisa "bangun" lagi tahun ini. Hadir sejak 1972 namun salah urus mengakibatkan perusahaan ini hanya menjadi beban bagi daerah. Tahun 1999 perusahaan ini bangkrut dan "dibangunkan" lagi 13 Mei 2008 dengan suntikan APBD TTU Rp 1,5 miliar.

"Jadi ibarat orang mati yang bangkit. Kami mulai lagi dari nol besar. Pengurusnya, mulai dari direktur utama, direksi dan staf adalah orang-orang baru dari swasta," papar Dirut PD Cendana Bhakti, Joseph Enrico T Fenat, belum lama ini.

Dia menambahkan bahwa perusahaan ini memulai usaha membeli beras milik petani, mendatangkan gula pasir dan minyak goreng. Ada rencana juga untuk bisnis wisata pemancingan ikan dipadu restoran ikan bakar.
PDAM TTS, pun sama. Tidak memberi keuntungan bagi daerah. Selama tiga tahun berturut-turut sejak 2006-2008 (lihat tabel), dana untuk penyertaan modal pemerintah mencapai Rp 1,8 miliar namun perusahaan ini hanya mampu menyumbang Rp 75 juta ke PAD TTS.

Menurut Dirut PDAM TTS, kontribusi perusahaan itu bagi daerah bisa diwujudkan melalui pelayanan air bersih bagi warga. Dikatakannya, susutnya aset berupa pergantian dan perbaikan pipa yang rusak mengakibatkan membengkaknya dana operasional setiap tahun. Kecilnya sumbangan untuk PAD antara lain karena tarif air di TTS masih jauh di bawah standar nasional. Untuk tingkat rumah tangga, misalnya, pelangan hanya dikenakan Rp 600/merter kubik.

Di Kabupaten Kupang, nasib PD Kantong Semen yang berdiri sejak 2003, saat ini mengkhawatirkan karena PT Semen Kupang sebagai konsumennya, kini tak lagi beraktivitas. Menurut Dirutnya, Drs. Beni Amalo, investasi yang ditanam Pemkab Kupang di perusahaan ini senilai Rp 16 miliar. Sejak 2003-2008, dari usaha pengadaan kantong semen, perusahaan ini baru memberi pemasukan untuk PAD sekitar Rp 360 juta.

Masih di Kabupaten Kupang, PD Agrobisnis, selama empat tahun hanya bisa memberi Rp 100 juta ke PAD dari total nilai penyertaan modal pemerintah selama empat tahun sebesar Rp 3 miliar (lihat tabel). Menurut Dirutnya, Gustaf Yakob, S.H, PD Agrobisnis bergerak di bidang penanaman jambu mente dan pengantarpulauan asam dan kemiri.

Kisah PD Purin Lewo di Lembata, lebih kurang sama. Dana miliaran digelontorkan ke perusahaan ini oleh pemerintah daerah namun salah urus mengakibatkan perusahaan dililit utang dan kini dalam proses pembenahan.

Di Ende, pernah hadir PD Ende Karya namun ditutup karena bangkrut. Kini tersisa hanya PDAM. Itu pun tidak ada kisah sukses. Perusahaan masih merugi dan belum memberi sumbangan ke PAD Ende.

Menurut Kasubag Keuangan Sekab Ende, Yasinta Asa, selama ini pendapatan PDAM hanya cukup untuk kebutuhan operasional perusahaan. Dirut PDAM Ende, Muhamad Husni mengakui bahwa PDAM belum memberikan kontribusi ke PAD namun kontribusi itu bisa dilihat dari pelayanan air bersih untuk masyarakat.

Sementara itu PD Komodo Jaya di Kabupaten Manggarai kini tidak sekeren lagi namanya. Perusahaan itu, kini, sedang dipersoalkan Dewan setempat karena dana pemerintah yang dialokasikan ke perusahaan itu tidak menghasilkan apa-apa.

Anggota DPRD Manggarai, Robert K Funay dalam sidang paripurna Dewan, belum lama ini, meminta agar pemerintah melikuidasi saja perusahaan itu.

"Sejak 2001 PD Komodo Jaya mendapat suntikan dana Rp 1 miliar dari pemerintah. Namun sampai saat ini tidak ada pemasukan bagi daerah. Kalau perusahaan itu tidak sehat sebaiknya dilikuidasi saja," katanya.

Menurut Bupati Manggarai, Drs. Christian Rotok, meski belum ada laporan tertulis dari direksi PD Komodo Jaya, bisa dipastikan perusahaan itu tidak sehat. Hal tersebut sebagai akibat tidak adanya inovasi dalam manajemen perusahaan.

"Kalau ada inovasi perusahaan itu bisa sehat. Tapi pengelolaan tidak baik sehingga mental menyusui masih sangat kuat. Kami rasa perusahaan itu tutup saja," katanya. (amy/yon/ade/aly/mas/ius/mar/lyn)

KINERJA PERUSAHAAN DAERAH
---------------------------
Tahun ! Penyertaan Modal Pemerintah ! Kontribusi ke PAD
---------------------------------------------------------------------------
PD Belu Bakti
2005/2006 ! Rp 372.355.221 Rp 6 Juta
2006/2007 ! Rp 322.355.221 Rp 2,5 Juta
2007/2008 ! Rp 322.355.221 Rp 1,8 Juta
-----------------------------------------------------------------------------
PDAM TTS:
2006 !Rp 300 Juta
2007 !Rp 500 Juta
2008 !Rp 1 miliar
------------------------------------------------------------------------------------
!Rp 1,8 miliar Rp 75 Juta
----------------------------------------------------------------------------------------
PD Kantong Semen (Kab. Kupang)
2003-2008! Rp 16 miliar Rp 360 juta
----------------------------------------------------------------------------------------
PD Agrobisnis (Kab. Kupang)
2002 ! Rp 1,5 miliar
2003 ! ----
2004 ! Rp 1 miliar
2005 ! -----
2006 ! Rp 500 juta
-----------------------------------------------------------------------------------
! Rp 3 miliar Rp 100 Juta
-----------------------------------------------------------------------------------
Sumber: Olahan Pos Kupang.

Pos Kupang edisi Senin, 20 Oktober 2008 halaman 1 http://www.pos-kupang.com
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes