Mencicipi Mete Cap "Mi Menge"

Oleh Dion DB Putra

BUKAN tak ada yang peduli terhadap nasib petani jambu mete di Pulau Flores. Harian Pos Kupang dan media massa lainnya di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah kerap merilis, menulis dan merekam tapak jejak kepedulian itu. Mungkin kecil, tetapi sungguh berarti bagi petani.

Sebut misalnya, Swiscontact, organisasi antarbangsa yang sejak 2004 memberi perhatian khusus terhadap tanaman jambu mete di Flores. Misi yayasan nirlaba yang berdiri di Swiss tahun 1959 tersebut ikut membantu penduduk miskin di Pulau Flores. Jambu mete merupakan salah satu komoditi yang bisa diandalkan petani memperbaiki kehidupan mereka. Pemda Ende, Ngada, Nagekeo, Sikka, Manggarai dan Flotim tidak asing dengan organisasi ini.

Swisscontact memulai aksi dengan survei. Mereka menemukan fakta komoditi pertanian asal Flores yang bisa menembus pasar Eropa dan Amerika Utara adalah jambu mete (cashew nut). Swisscontact juga menemukan jambu mete di Flores umumnya tumbuh secara organik. Tumbuh dengan pupuk alam.

Bukan pupuk kimia buatan manusia. Mutu mengagumkan, tapi nilai tambah secara ekonomis justru berlangsung di luar Nusa Bunga, terutama India. Para petani Flores hanya tahu menjual kepada pengumpul atau tengkulak. Selanjutnya mereka tak tahu dan tak ingin tahu lebih jauh. "Yang penting kami dapat uang dari jual mete," demikian pengakuan polos Bernadeta Rika.

Data Pos Kupang menunjukkan, selain mendorong tumbuhnya UKM, prestasi Swisscontact dalam programnya di Flores adalah memperkenalkan sertifikasi pertanian organik untuk jambu mete. Sertifikasi organik berkorelasi dengan harga jual. Harga mete organik lebih tinggi ketimbang non-organik. Kini sekitar 600 petani jambu mete di Flores dengan sertifikat organik. Setiap panen menghasilkan jambu mete di atas 200 ton.

Swisscontact -- yang bekerja di 30 negara di dunia -- setidaknya telah menyadarkan petani mete di Flores untuk menaman secara organik karena itulah yang dibutuhkan pasar internasional. Dan, makanan organik itu sehat.
Swisscontact tidak sendirian. Tokoh ini perlu disebut. Asalnya dari Jawa Timur, bermukim di Wolowaru, Kabupaten Ende. Wolowaru, tempat mampir yang tersohor di jalur Ende-Maumere. Anda yang pernah melintas Flores selatan mungkin pernah menyingahi rumah makan Jawa Timur di jantung Kota Wolowaru. Pernah menikmati soto dan ayam goreng bikinan Sucahyo Lukito, si pemilik warung itu.

Beberapa tahun terakhir, Lukito tidak sekadar mengelola warung. Ia mempunyai aktivitas yang lebih besar yaitu mengekspor kacang mete olahan. Setiap hari Lukito bekerja bersama 123 karyawan-karyawati mengolah kacang mete. Mulai dari memecah mete gelondongan sampai berbentuk camilan. Lukito "mengoreng" mete organik menjadi kacang garing, renyah, gurih dan nikmat.

Di bawah bendera UD Nusa Permai, Lukito telah mengeskpor mete organik ke tiga negara, Singapura, Jerman dan Amerika Serikat. Segera menyusul Australia. Kacang mete Flores sesuai standar mutu lembaga sertifikasi internasional, Institute for Marketecology (IMO) dan dalam pengawasan Laboratorium Jerman, Ifmulm Dr. Rolf Bauerle. "Pengakuan dari IMO kacang mete organik Flores terbaik di dunia. Warga Eropa paling meminati kacang mete ini. Permintaan mereka tinggi, berapapun yang disediakan dibeli habis. Tetapi saya tidak bisa memenuhinya karena modal terbatas," kata Sucahyo Lukito kepada Pos Kupang dan Kompas di Wolowaru (Pos Kupang online, Selasa 16 September 2008).

Eskpor perdana kacang mete dimulai tahun 2007 sebanyak 17,5 ton ke distributor Jerman, PT Flores Farm, Big Tree Farm di Amerika Serikat dan PT Palmerindo Lestari-Singapura. Tahun 2008, selain ke tiga distributor itu, Lukito menjual
kepada distributor Australia. Lukito tercatat sebagai orang Indonesia pertama yang mengekspor kacang mete ke Eropa. "Sebab baru saya dari Indonesia yang memperoleh sertifikasi IMO," katanya.

Luar biasa bukan? Siapa menduga kacang mete gurih dan renyah kesukaan bule Eropa diolah tangan-tangan sederhana asal Wolowaru? Bahan mete organik berasal dari Desa Ile Padung, Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur seluas 240 ha yang menghasilkan 300 ton/tahun dan dari Desa Rowa, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo seluas 40 ha dengan kapasitas produksi 70 ton/tahun. Menurut Lukito, jambu mete dari dua desa tersebut sudah disertifikasi IMO. IMO ke Flores difasilitasi Swisscontact. Harga jual mete gelondongan di dua daerah tersebut lebih tinggi 30 persen dibanding mete tak bersertifikat IMO.

Jelas dan bening duduk soalnya sekarang. Kacang mete olahan bisa dikerjakan di Flores. Masuk pasar dunia dengan nama Flores. Kendati India masih merajai Nusa Bunga, namun langkah kecil dari Wolowaru membuka mata, Flores juga bisa mengolah 'hasil kebun' sendiri sesuai standar mutu internasional. Flores dan NTT agaknya butuh banyak figur seperti Lukito sehingga mampu menyerap lebih banyak jambu mete dari petani. Para petani mete di Flores dan NTT perlu mendapatkan sertifikasi seperti saudara mereka di Ilepadung dan Rowa agar nilai jualnya lebih baik. Memiliki posisi tawar sepadan, tidak mudah ditipu tengkulak atau jaringan pengusaha dari luar.
***

LAHAN jambu mete di kawasan Pantai Utara (Pantura) Sikka dan Ende tidak kalah dibanding Rowa dan Ilepadung. Mengutip Camat Kota Baru, Drs. Kornelis Wara, luas tanaman jambu mete di wilayah yang dipimpinnya itu kurang lebih 300 ha. Tanaman ini dibudidayakan sejak 20 tahun lalu ketika Kota Baru masih tercatat sebagai Perwakilan Kecamatan Maurole. "Jambu mete di sini umumnya sedang produktif, usia antara 5-15 tahun. Tumbuh alamiah. Saya bisa memastikan petani tidak pakai pupuk kimia dan pestisida," kata Wara.

Pusat jambu mete di Kecamatan Kota Baru adalah dataran Ndondo yang meliputi Desa Niopanda, Ndondo, Tou, Tou Timur dan Loboniki. Tanaman yang tidak rewel ini juga dikembangkan petani di Panalato dan hampir seluruh kawasan utara Kecamatan Maurole. Petani di sana, kata Kornelis Wara, juga menaman kepala, kemiri, kakao dan vanili. "Tapi jambu mete terbanyak. Tahun ini panenan kurang. Tahun 2007 tidur malam kami terganggu oleh lalu lalang kendaraan yang mengangkut jambu mete," ujarnya.

Dampak ekonomis nyata bagi penduduk. Sejak tahun 2000, bersamaan dengan akses jalan yang semakin baik ke Maumere maupun Ende, derajat kehidupan petani meningkat. "Salah satu indikator, makin banyak orangtua sekolahkan anak mereka. Angka drop out turun dari tahun ke tahun. Tahun ini kelas 1 SMPN Kotabaru ada 200 anak," demikian Wara.

Setelah masa keemasan kelapa (kopra) berakhir, jambu mete kini menjadi sandaran hidup penduduk Flores. Pantura menjanjikan masa depan. Akses jalan makin bagus. Mobilitas manusia dan barang lancar. Mbay, ibukota Nagekeo, bakal menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Sikap antisipasi dan mempersiapkan diri mau tak mau harus dilakukan sejak dini. Saat ini PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Persero sedang membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Desa Keliwumbu, Kecamatan Maurole. PLTU bekuatan 2x7 MW itu bisa memenuhi kebutuhan listrik dua kabupaten, Ende dan Sikka. Bahkan Nagekeo, tetangga di barat.

Investasi besar tentu bukan tanpa tujuan besar. Krisis daya listrik di Flores bakal teratasi dengan beroperasinya PLTU Ropa dalam waktu dekat. Tumbuhnya industri di Pantura Flores bukan mustahil. Investor bakal datang jika energi listrik mencukupi. Ada waktunya nanti petani Pantura Flores tidak cuma menjual mete gelondongan seperti sekarang.

Toh tanaman ini banyak manfaatnya, mulai dari akar, batang, daun hingga buah. Buah mete semu tidak perlu dibuang. Buah semu diolah menjadi beberapa jenis seperti sari buah mete, anggur mete, manisan kering, selai mete, buah kalengan, dan jem jambu mete. Kulit kayu jambu mete mengandung cairan berwarna coklat. Apabila terkena udara, cairan tersebut berubah hitam. Cairan ini dapat digunakan untuk tinta, bahan pencelup atau pewarna. Kulit batang jambu mete berkhasiat sebagai obat kumur atau obat sariawan. Batang pohon menghasilkan gum atau blendok untuk perekat buku. Selain daya rekatnya baik, gum berfungsi sebagai anti gengat yang menggerogoti buku. Akar jambu mete berkhasiat sebagai pencuci perut. Daun mete yang muda dimanfaatkan sebagai lalap. Di Jawa Barat, orang makan lalapan daun mete muda. Daun tua adalah obat luka bakar.

Dari akar sampai buah mete bisa diolah menjadi bahan bernilai ekonomis. Terlintas kerinduan, suatu hari nanti mencicipi sari buah mete cap "Mi Menge" produksi Pantura Flores. Mi menge, harum mewangi sari jambu mete dari Ndondo, Tou, Kota Baru, Sokolago, Aewora, Ropa atau Sokoria. Kenapa tidak? Peluang emas itu ada di depan mata. (habis)

Pos Kupang edisi Rabu, 22 Oktober 2008 halaman 1, http://www.pos-kupang.com/
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes