Di Oenesu Ada Mobil Bagoyang Sandiri

HARI Senin (20/10/2008) siang, jarum jam menunjukkan pukul 11.30 Wita. Air Terjun Oenesu, Kelurahan Oenesu, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang lengang. Tak ada pengunjung mendatangi lokasi ini.

Terik membakar ubun-ubun. Terasa menyengat. Belasan lopo yang dibangun di lokasi ini kosong. Cuma ada beberapa tukang yang sedang menggali parit untuk pembuatan pagar di sebelah utara lokasi ini. Mereka adalah warga Oenesu.

Tawa dan senda gurau terdengar jelas. Sesekali mereka berteriak hanya sekadar mengusir kepenatan. Begitu panasnya mentari membuat sebagian mereka membuka baju. Dada dibiarkan telanjang. Para tukang ini juga mengikatkan tais, selendang khas Timor di dahi. Tais ini untuk menahan sengatan mentari dan peluh.

Yang lainnya menarik rokok dalam-dalam sembari bercerita. Hal apa saja mereka bahas di bawah sebuah bangunan lopo, persis di tepi Kali Oenesu. Bahkan perbedaaan pendapat pun muncul di antara mereka, seperti diskusi tentang pengembangan daerah tujuan wisata dan dampaknya bagi warga setempat. Ada banyak hal yang mereka diskusikan sebagai bahan masukan untuk pemerintah.

Pertama, tentang tanaman di areal seluas empat hektar itu. Lokasi itu gersang. Jika kita berjalan ke arah air terjun terdapat tanaman yang usianya puluhan, mungkin juga ratusan tahun. Untuk membuat "beranda" lokasi itu menjadi sejuk, maka tak ada cara lain. Menanam dan menanam. Kalau sudah menanam, maka butuh perawatan. Tanaman perlu disiran dan dipupuk agar tumbuh subur.

Kedua, air di kali itu agar terus dibersihkan karena dipenuhi dengan limbah dari perkampungan yang dilewati sungai ini. Ketiga, mereka meminta pemerintah segera membangun kolam renang bagi semua kelompok umur.

Keempat, tentang perilaku pengunjung. Para tukang ini banyak berkisah, lokasi ini akan ramai pada tiap hari Minggu atau hari libur. Bahkan hari biasa pun terdapat pengunjung meski jumlahnya terbatas. Pada hari-hari biasa, mereka yang datang adalah anak-anak muda yang memanfaatkan lokasi ini untuk pacaran.

Jika sekadar jalan-jalan tak soal. Namun, ketika menunjukkan gelagat aneh, maka warga pasti mengusirnya. Para tukang ini bercerita, pernah mengusir sejumlah pasangan dalam waktu berbeda karena berpacaran di atas mobil.

"Kami lihat mobil itu maen bagoyang (mobil terus bergoyang). Dan, sudah berulangkali kami lihat pengunjung aneh-aneh seperti itu. Kami bilang, jangan nodai kampung ini. Ketika itu juga kami usir," kata Markus Buitbesi (40), warga setempat. Pernyataan Markus dibenarkan Stefanus Pong (51), Ketua RT 03/RW 02, Lingkungan II, Oenesu.

Stefanus mengatakan, kejadian ini merupakan konsekuensi dari sebuah perubahan, apalagi bicara tentang pariwisata. Namun, nilai-nilai dan tata krama harus tetap dijaga. Karena itu sebagai warga setempat mereka selalu mengawasi lokasi itu agar steril. Bersih dari berbagai pengaruh negatif.

Warga ini meminta pemerintah mengganti jembatan kayu menjadi jembatan beton. Jembatan ini digunakan pengunjung menuju lokasi air terjun. Ketika menuruni puluhan anak tangga pun sangat berbahaya. Kata "cedera" akan selalu mengingatkan kita ketika melewati jembatan gantung dan anak tangga jika terjatuh.

Di lokasi air terjun udara terasa sejuk. Menggembirakan, apalagi menyaksikan air terjun yang meniti bebatuan terjal, tajam dan berlumut. Percikannya sungguh eksotik. Sebuah kolam alam sangat dalam. Pada tiap hari Minggu atau hari libur banyak warga yang menjadikannya sebagai tempat pemandian. Kedalamannya sekitar delapan sampai sembilan meter.

Apa yang disampaikan warga Oenesu ini tetap kita lihat dalam konteks konstruksif. Sebagai warga di kelurahan ini, sehari-hari terus mengamati obyek wisata ini. Bila penataannya baik akan berdampak pada kontribusi bagi daerah.

Dengan penataan yang lebih baik, arus kunjungan akan lebih banyak. Dengan demikian akan berdampak pula bagi mereka. Seperti bisnis kecil-kecilan dapat laris manis saat pengunjung memadati lokasi terjun ini.

Kita ingin mengatakan bahwa air terjun Oenesu perlu dibenahi lagi. Sudah ada beberapa langkah positif yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Kupang. Membangun lopo, anak tangga ke air terjun dan menetapkan pendapatan per tahun untuk lokasi ini. Tinggal dikembangkan lagi. Kita yakin dinas teknis sudah menyiapkan program ke depan. (paul burin)

Pos Kupang edisi Senin, 27 Oktober 2008 halaman 4, http://www.pos-kupang.com/

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes