Sakoseng, Spirit Gotong-Royong yang Memudar

Oleh Gerardus Manyella

"OA mbele oa nara, nara mbele oa le..oa le...
Syair lagu ini sering terdengar pada musim persiapan tanam seperti sekarang ini. Dinyanyikan oleh kelompok kerja yang anggotanya antara 20 sampai 40 orang di bawah terik mentari. Syair lagu diikuti hentakan cangkul itu biasa dinyanyikan dalam empat suara berbentuk koor disusul dua suara solo. "Nara odo wine, wine na gajon tua, tua reta lou korak ha hama-hama...."

Kita yang mendengar dari kejauhan mengira ada yang sedang berlatih koor, lagu daerah yang penuh semangat. Ternyata tidak. Ini adalah sakoseng di wilayah Kangae, sako jung di wilayah Kewapante dan papapoa di wilayah Lio. Sejak dahulu kala, petani di Kabupaten Sikka biasa bekerja bergotong-royong mengolah tanah secara bergilir. Hari ini di kebunnya si A, besok di kebun si B, lusa di kebun si C, dan seterusnya, sampai semua anggota kelompok mendapat giliran. Pemilik kebun tidak membayar, cukup siapkan makan minum seperlunya, seperti lele segor, ara maling wuek, ubi bakar, pisang bakar, rumpu rampe, i'an du'ur dan selalu dilengkapi dengan tua gahu (moke plasu ha, plasu rua).

Kenapa mereka harus menyanyi? "Bukankah dengan menyanyi mereka akan tambah capai ? Petrus Pelem (56), warga RT 13 RW 05, Dusun Baoloka, Desa Langir, Kecamatan Kangae, didampingi Fernades Epa (43) dan Blasius Nenong (59), menjelaskan, kalau tidak nyanyi justru cepat capai. Kalau menyanyi selalu membangkitkan semangat dan lahan yang dicangkul bisa mencapai 1 sampai 1,5 ha, dalam waktu satu hari. Bahkan dalam waktu sehari, mereka bisa mencangkul kebun milik dua sampai tiga orang anggota kelompok.

Petrus dan Fernandes yang ditemui di Langir, Rabu (8/10/2008), menjelaskan, sakoseng berarti kebersamaan dalam bekerja. Semangat sakoseng itu diwariskan oleh nenek moyang mereka yang berasal dari Bekorbira. Sakoseng atau gotong royong dalam bekerja diawali dengan membangun rumah tinggal kemudian dikembangkan ke cangkul kebun. Nenek moyang mereka, kata Petrus, menyadari betapa pentingnya bekerja sama atau gotong royong dalam menyelesaikan pekerjaan. Dengan sakoseng atau semangat gotong royong pekerjaan yang berat menjadi ringan.

Sakoseng atau bekerja bersama-sama juga dipraktikkan dalam membuka jalan, membangun sekolah, membangun gereja atau fasilitas publik lainnya. Semua itu dilakukan tanpa pamrih, tanpa upah demi kebaikan bersama, demi kesejahteraan bersama. "Dulu kalau membuka jalan, bangun sekolah, gereja atau sarana publik lainnya, kami selalu bekerja bersama-sama tanpa upah.


Semua warga dikerahkan hanya dengan pengumuman kepala dusun pada malam sebelum jadwal bekerja dimulai. Dengan semangat sakoseng atau gotong royong, kami bisa membuka jalan puluhan kilometer, membangun gedung sekolah, balai pengobatan, gereja dan lain-lain. Kami menyadari bahwa sarana dan prasarana itu bermanfaat bagi kami. Sekarang anak-anak muda susah diminta bekerja bersama membangun sarana dan prasarana umum. Kalau bekerja, mereka selalau meminta upah, karena mereka menganggap pekerjaan seperti itu proyek pemerintah yang sudah ada anggarannya. Ini yang kami sebagai orangtua sesalkan," kata Petrus.

Kembali ke sakoseng membersihkan kebun, menyiapkan lahan menghadapi musim tanam. Petrus menjelaskan, sakoseng selalu diiringi dengan lagu sehingga anggota kelompok selalu bersemangat dalam mencangkul. Syair lagu oa mbele, oa nara seperti dirigen atau palumat yang mengatur sentakan cangkul. Cangkul diangkat bersama dan dijatuhkan juga secara bersama-sama. Sakoseng biasa dilakukan untuk sako karit, karena hasil cangkulan tidak dalam. Jika ada anggota kelompok yang membuka lahan baru, perlu dilakukan sako magang, anggota yang terlibat harus betul-betul tangguh, karena cangkulnya harus dalam.

Sakoseng juga melibatkan kaum perempuan, bahkan anak-anak bisa mengikutinya. Sakoseng tidak diskriminatif, semua orang, laki-laki, perempuan, tua muda bahkan anak-anak terlibat dalam kelompok sakoseng itu.

Organisasi sakoseng juga sederhana. Strukturnya hanya ketua. Tidak ada wakil ketua, sekretaris dan bendahara, karena kelompok sakoseng hanya membutuhkan seorang pemimpin yang bisa menggerakkan anggotanya, tidak ada surat-menyurat, tidak ada uang yang perlu dikelola oleh bendahara. Sifatnya juga musiman. Sakoseng dihidupkan pada saat persiapan lahan seperti bulan Oktober saat ini. Jika volume pekerjaan sudah ringan, kelompok sakoseng bubar dan mengurus kebun sendiri-sendiri. Untuk mendapat giliran, tidak dilakukan lotre, tapi siapa yang pertama melakukan 'sako tadan' (mencangkul pertama) pada kebun milik anggota yang mendapat giliran pada hari itu, dia yang mendapat giliran besoknya. Dengan demikian, kata Petrus, anggota sakoseng berebutan melaklukkan sako tadan. Bahkan ada yang sako tadan dini hari, jika dia sangat membutuhkan gilirannya.

Sakoseng juga sebagai wahana menjalin persatuan dan kesatuan, mempererat tali persaudaraan dan merekatkan keharmonisan hidup bertetangga, karena umumnya anggota kelompok sakoseng adalah warga dalam satu dusun atau satu RT. Mereka juga selalu bersama-sama menyelesaikan persoalan sosial kemasyarakatan, saling membantu dalam suka dan duka.

Sakoseng, kata Petrus, betul-betul bermanfaat dalam ua uma kare tua, ia na umat naha ihin, ihin daa rua witi, tua naha dolo mosa (Sakoseng betul-betul bermanfaat dalam bekerja kebun dan mengiris tuak sehingga panennya berlimpah dan mokenya tidak pernah kering). Dengan demikian, anggota kelompok sakoseng tak pernah kelaparan, tak pernah kekurangan pangan dan tak pernah menderita gizi kurang atau gizi buruk.
Anak-anak anggota kelompok sakoseng selalu sehat karena stok pangan tak pernah kurang.

Di wilayah Lio Utara, warganya juga selalu berkeja bersama-sama, bergotong royong menyiapkan kebun. Menurut bahasa setempat, sakoseng disebut papapao. Papapao selalu diiiringi dengan syair lagu, "manung go, o raso manung go". Fransiskus Sambi (49), Ketua Kelompok Sinar Tani, Rategulu, Desa Magepanda, Kecamatan Magepanda, yang ditemui Kamis (9/10/2008), mengatakan papapo membangkitkan semangat bekerja (mencangkul), karena dilakukan secara bergotong royong. Biar siang bolong, semangat kerja tak pernah pudar. Mereka selalu semangat dalam bekerja. Semangat kerja kelompok papapo sangat tinggi sehingga sehari untuk cangkul balik bias mencapai 1/4 ha dan untuk karit atau garuk bisa 1 ha, dengan jumlah anggota 20 orang. Kerjanya bergilir selama enam hari. Pemilik kebun hanya menyiapkan konsumsi sesuai kemampuan. Selain mengerjakan kebun, kelompok ini juga selalu berpartisipasi jika ada anggota keluarga yang meninggal dunia, atau sakit.

Hubungan sosial kemasyarakatan juga berjalan bagus sehingga dirasakan sangat bermanfaat. Menurut Frans, kelompok mereka biasa diminta mengerjakan fasilitas umum tapi tidak diupah. Semua itu dilakukan untuk kepentingan bersama masyarakat. Jika ada anggaran untuk upah, dananya digunakan untuk dana kelompok yang sesekali dimanfaatkan untuk membantu anggota kelompok yang kesulitan. "Jadi kami selalu bekerja bersama-sama atau bergotong royong dalam suka dan duka," kata Frans.

Namun sakoseng atau gotong royong mulai pudar seiring dengan bertumbuh suburnya sikap individual, kemajuan teknologi (hadirnya traktor) dan kemerosotan hubungan sosial kemasyarakatan. Orang lebih mengutamakan diri sendiri ketimbang membantu sesama atau orang lain. Bahkan sikap individual itu terus bertumbuh subur sehingga syair lagu oa mbele, oa nara, nara mbele oa le sudah jarang terdengar di siang bolong. Tidak ada lagi tokoh panutuan yang menggerakkan dan menghidupkan kembali sakoseng dan berbagai pekerjaan seperti dahulu kalah.

"Dulu saat Gubernur NTT dijabat Pak El Tari, dia pernah turun dari mobilnya dan jalan kaki masuk kebun, melihat para petani di Brai yang sedang sakoseng, yang nyanyiannya mengusik telinganya.. Beliau tampak sangat bahagia hingga duduk lebih dari 40 menit dan mau mencicipi ubi bakar dan moke putih yang disuguhkan petani," kata Petrus.

Petrus mengharapkan lahir El Tari baru di masa emas ini, sehingga program menjadikan NTT sebagai lumbung jagung yang dicanangkan Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, bisa sukses . Apalagi jagung merupakan makanan pokok yang dikenal sejak nenek moyang kita.*

Pos Kupang edisi Minggu, 12 Oktober 2008 halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes