Ingat Ende, Ingat Beranga (2)

SAMA seperti jeruk keprok yang ditanam masyakarat Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) yang mempunyai kualitas dan cita rasa buah sangat enak, pisang beranga kelimutu asal Ende juga punya kekhasan. Bedanya, jeruk keprok telah diakui sebagai kualitas buah nasional. Wilayah pemasaran dua jenis buah ini tak terbatas hanya di daerah asal buah, tetapi sudah merambah sampai ke Kota Kupang, Bali dan Jawa.

Bagi petani di TTS, pengakuan kualitas jeruk keprok menjadi merek produk usahanya sekaligus menunjukkan jati diri mereka. Keunggulan produk itu tak dijumpai pada buah jeruk sejenis yang tumbuh di wilayah lain.

Karena motivasi itu juga, Bupati TTS, Drs. Daniel Banunanek, bersemangat membudidayakan jeruk keprok seluas mungkin dan menjajaki pemasarannya ke berbagai daerah agar bisa menyerap panenan petani. Dampaknya, petani mendapatkan harga jual buah yang pantas dan penghasilan sebanding. Sementara konsumen bisa mengonsumsi buah-buahan yang memenuhi standar gizi yang dibutuhkannya.

Varietas buah-buahan lokal ini harus dinomorsatukan pembudidayaannya kepada petani sehingga menjadi keunggulan ciri khas daerah. Alasannya sederhana, tanaman buah-buahan tersebut sangat cocok dengan iklim dan bisa tumbuh subur di wilayah setempat dan menghasilkan kualitas buah yang sangat enak.

Mengubah pola perilaku demikian ini penting dilakukan, karena selama ini konsumen begitu "mendewakan" buah-buahan sejenis yang dihasilkan petani-petani di Mataram, Bali, Jawa dan Makassar, seolah-olah buah-buahan dari luar itu yang terbaik. Padahal varietas lokal jauh lebih unggul dari buah-buahan yang datang dari luar daerah.

Memang, dalam hal budidaya dan teknologi pengembangan, petani kita kalah bersaing dan tertinggal beberapa langkah. Namun apalah salahnya memulai dari keterlambatan itu daripada tidak memulainya sama sekali?

Hironimus Pala, Koordinator Yayasan Tananua, mengakui pengembangan tananam pisang beranga kelimutu baru dilakukan sekitar dua tahun terakhir melalui pengembangan demplot, yakni menanam pisang pada suatu lokasi khusus agar menjadi contoh pengembangan tanaman ini kepada petani.

Selama ini, kata Hironimus, penanaman pisang beranga kelimutu hanya dilakukan petani di lahan yang sangat terbatas dengan jumlah yang terbatas pula. "Belum ada sentuhan teknologi apa pun. Polanya sangat tradisional. Petani menanam sebagai tanaman sela di ladang, misalnya di pinggir kebun, dekat kali atau untuk menahan banjir. Jumlah pohon yang ditanam sangat terbatas, maka buah yang dihasilkan juga sangat terbatas. Kalau ada kelebihan dijual beberapa tandan ke pasar, tetapi lebih banyak untuk kebutuhan sendiri," kata Hironimus.

Menurut Hironimus, varietas lokal pisang beranga kelimutu telah lama ditanam para petani. Namun mereka belum disadarkan bahwa pisang beranga yang ditanam di kebunnya merupakan pisang kualitas terbaik yang paling enak cita rasa buahnya dan hanya bisa dihasilkan dari lokasi-lokasi tertentu di Ende. Mereka hanya tahu jenis pisangnya, tetapi tidak memahami dengan benar keunggulannya.

Karena itu, tugas pertama yang mesti diemban pemerintah, saran Hironimus, adalah menanamkan keyakinan dalam benak para petani bahwa pisang beranga kelimutu yang khas rasa buahnya itu hanya bisa tumbuh di Ende. Pisang sejenis juga bisa tumbuh dan menghasilkan buah pada lokasi lain, tetapi cita rasa buah yang khas hanya bisa ditemui di Ende. "Masyarakat hanya tahunya pisang beranga itu. Selebihnya mereka tidak tahu apa-apa. Pemahaman ini harus dibangun lebih dahulu. Petani jangan dibiarkan berjalan sendiri mencari tahu," katanya.

Menurut Hironimus, pemerintah kurang greget menjadikan penanaman pisang beranga kelimutu sebagai gerakan bersama melibatkan semua stakeholder. Motivasi kepada masyarakat belum sepenuhnya tepat dilakukan, sehingga penanaman yang dilakukan hanya untuk konsumsi sendiri dengan jumlah terbatas," kata Hironimus.

Ia menambahkan, tanaman ini dibudidayakan pada areal yang lebih luas di daerah penghasil buah pisang beranga terbaik yakni pada ketinggian 0-800 meter di atas permukaan laut. Daerah-daerah yang cocok misalnya di Kecamatan Nangapanda, Ende, Ende Selatan, Ndona, Wolojita, Wolowaru dan Lio Timur.

Tetapi di sebagian wilayah selatan Ende, masyarakat enggan menanamnya, karena setiap menjelang panen mereka harus berebutan dengan kera. "Pisang musuh utamanya kera. Petani yang hendak menanam akan pikir-pikir," tandas Hironimus.

Kepala Subdinas Produk Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Ende, Fransiskus Xaverius Ndoki, mengatakan, pemerintah daerah melalui program beranganisasi pada 2007 telah mengembangkan 30 ha pisang beranga di Kecamatan Ndona dan Detusoko. Setiap hektar ditanami 400 rumpun pisang atau keseluruhan sebanyak 12.000 rumpun. Penanaman pada April 2007 telah dipanen pada bulan Maret 2008.

Model pengembangan yang dilakukan pemerintah melalui kelompok-kelompok tani di pedesaan. Pemerintah menyediakan dana Rp 50 juta/kelompok untuk pengadaan bibit pisang, pupuk dan obat-obatan kelompok Tani Beranga Bersatu dan Renda Keli.

"Pemerintah memberikan motivasi dan pelatihan. Penanaman dan perawatan selanjutnya oleh kelompok. Lokasi ini menjadi lokasi budidaya dan obyek studi banding bagi kelompok lainnya. Dana yang diberikan kepada kelompok pertama akan digulirkan kepada kelompok berikutnya dan seterusnya," kata Frans.

Kasim Kobe (50), ketua kelompok pengembangan pisang beranga kelimutu di Kelurahan Lokoboko, Kecamatan Ndona, mengakui pola yang dikembangkan pemerintah daerah sangat menolong para petani. Selama ini mereka menanam pisang seadanya untuk kebutuhan pangan, namun tak paham kalau jenis pisang beranga kelimutu merupakan kualitas pisang terbagus.

Dari 10 ha tanaman pisang beranga itu, kelompok yang beranggotakan 14 orang telah memanen 150 tandan. Cara penanaman yang benar telah memberikan buah yang bermutu ketika dipasarkan. "Dulu kami tanam sedikit sekali, tetapi dengan dana pemerintah, kami usahakan lebih banyak. Hasilnya sangat bagus, buahnya enak dan sering dicari," kata Kasim di kebunnya di Lokoboko. (Eugenius Moa/bersambung)

Pos Kupang edisi Selasa, 12 Agustus 2008 halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes